Pesisir selatan Pulau Jawa berhadapan langsung dengan zona subduksi Lempeng Eurasi dan Lempeng Indo-Australia. Lempeng Indo-Australia bergerak relatif ke arah utara menunjam Pulau Jawa yang berada di bagian selatan Lempeng Eurasia. Pergerakan kedua lempeng yang sangat dinamis menyebabkan wilayah selatan Pulau Jawa rentan terhadap bencana gempabumi dan vulkanisme (Marfai et al., 2008). Wilayah kepesisiran Parangtritis dalam hal ini rentan terhadap bencana gempabumi dan tsunami.

Gempabumi di Bantul terjadi pada tanggal 27 Mei 2006. Episentrum gempa berada di 40 km sebelah selatan Kabupaten Bantul (Sudibyakto, 2006) dan hiposentrumnya berada di kedalaman 33 km (Marfai et al., 2008). Gempabumi Bantul memiliki kekuatan 5,8 SR dan tidak menyebabkan tsunami (Sudibyakto, 2006). Gempa Bantul menewaskan 4.659 jiwa dan menyebabkan 50.000 jiwa menjadi korban bencana (Leitmaan, 2007; Marfai et al., 2008).

Gempabumi Bantul tahun 2006 menyebabkan 127.000 rumah rusak dan 451.000 bangunan lainnya juga rusak. Prakiraan total kerugian mencapai 3,1 juta US dollar (Konsultan Grup Indonesia, 2006; Tsuji et al., 2009). Kebanyakan wilayah yang rusak merupakan wilayah padat penduduk sepanjang jalur Sesar Opak terutama di timur laut Kawasan Parangtritis dan menerus ke arah utara hingga Kabupaten Klaten (Abidin et al., 2009; Tsuji et al., 2009). Penelitian yang dilakukan Tsuji et al. (2009) menyimpulkan bahwa deformasi permukaan pada 10 km sebelah timur Sesar Opak berkaitan dengan gempabumi tahun 2006. Data yang digunakan untuk analisis adalah Synthetic Aperture Radar Interferometry (InSAR).

Bahaya lain di Pantai Parangtritis yang dapat menimbulkan bencana adalah arus retas (rip current). Arus retas adalah arus yang mengalir dari tepi pantai melalui jalur gelombang pecah atau celah dasar laut (Pethick, 1984; Sunarto et al., 2010). Sunarto (2015) mengungkapkan bahwa arus retas dapat terbentuk pada pantai yang memiliki morfologi teluk (embayment). Gisik yang memiliki teluk adalah gisik yang bertipe peralihan (intermediate beach), yaitu peralihan antara gisik hamburan (dissipative beach) dan gisik pantulan (reflective beach). Arus retas menyebabkan banyak kematian di Pantai Parangtritis terutama wisatawan (Sunarto et al., 2010). Kenampakan arus retas dapat dilihat di bawah ini.

arus retas

Kenampakan Arus Retas di Wilayah Pantai Parangtritis. Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/11914-mahasiswa.ugm.mengembangkan.sistem.identifikasi.arus.balik. mematikan.di.pantai.parangtritis (2016)

Sungai Opak juga menyimpan potensi bencana berupa banjir. Banjir terjadi ketika sungai tidak mampu lagi menampung volume air. Banjir juga dapat terjadi karena muara sungai tersumbat oleh sedimentasi. Bencana lainnya yang dapat terjadi di Desa Parangtritis adalah bencana gelombang pasang yang terjadi sekitar Juni 2016. Bencana ini mengakibatkan kerugian karena merusak bangunan fasilitas penunjang wisata, khususnya yang ada di Kawasan Wisata Pantai Depok. Jarak bangunan dengan garis pantai yang dekat mengakibatkan potensi kebencaan semakin meningkat.