Desa Parangtritis awalnya terbagi menjadi dua wilayah yaitu Kelurahan Sono dan Kelurahan Grogol.  Kelurahan Grogol terletak di bagian timur Desa Parangtritis, sedangkan Kelurahan Sono terletak di bagian barat Parangtritis. Lokasi kelurahan ini mempengaruhi ekomoni masyarakat. Perkembangan ekonomi di masa lampau tumbuh lebih cepat di Kelurahan Grogol. Masyarakat Kelurahan Grogol memiliki lahan sawah yang cukup luas dan juga mempunyai pariwisata Pantai Parangtritis yang sudah berkembang sejak penjajahan Belanda, sehingga dapat memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya secara mandiri. Pada tahun 1946 kedua kelurahan ini bergabung menjadi Desa Parangtritis. Kelurahan Sono terpecah menjadi 6 dusun yaitu Dusun Duwuran, Dusun Kretek, Dusun Sono, Dusun Samiran, Dusun Bungkus dan Dusun Depok. Kelurahan Grogol terpecah menjadi 5 dusun yaitu Grogol VII, Grogol VIII, Grogol IX, Grogol X dan Mancingan.

Perkembangan sarana dan infrastruktur transportasi di Desa Parangtritis mulai dilakukan pada tahun 1980. Jaringan jalan utama dan penghubung sebelumnya hanya berupa batu dan material tanah mulai diaspal. Pada tahun 1989 dibangun jembatan melintasi Sungai Opak yang menghubungkan antara Desa Parangtritis dan Desa Donotirto. Jembatan ini dikenal dengan nama Jembatan Kretek. Hambatan dari sarana transportasi telah hilang, Desa Parangtritis sudah dapat diakses dengan mudah. Sejak saat itu Desa Parangtritis mulai berkembang sebagai daerah tujuan wisata. Tempat wisata yang mulai dikenal adalah Pantai Depok. Pantai Depok mulai diresmikan tahun 1998. Perkembangan ekonomi warga di sekitar Pantai Depok mulai meningkat. Dusun Depok mampu berkembang lebih cepat dibandingkan dengan dusun yang lain.